Alunan Piano di Jantung Kota Ghent

Hari ini gue lagi demam lagunya Banda Neira yang judulnya Sampai Jadi Debu, alunan pianonya terngiang-ngiang banget. Nah, sewaktu sarapan pagi tadi, salah satu pimpinan kantor gue cerita kalau dia dapet tiket seharga 8juta PP Indonesia-Belgia. My thought was flying back to Ghent. Kota yang selalu jadi tempat favorit gue di Belgia.

Kita traveling ke Ghent sebenarnya tanpa sengaja di bulan September 2015. Waktu itu kita lagi hidup nomad dan tinggal di Brussel selama seminggu. Traveling ke Eropa bukan suatu hal yang mudah kalau diliat dari berbagai sisi, sehingga salah satu temen kita (yang saat itu udah beli paket tiket kereta around Belgium) gagal berangkat ke Belgia dan melelang tiketnya untuk kita pake. Pilihannya waktu itu antara Antwerp atau Ghent, tapi setelah cap cip cup, kita mutusin untuk 1 day trip aja ke Ghent. Maklum, mahasiswa harus ngirit ongkos. Tiket PP Brussel-Ghent waktu itu seharga €10 via Gare Du Midi.

Karena kita berangkat siang, jadi kita cuma sempet jalan-jalan di city center sebelum hari gelap. Kita ngelewatin Torens-side di city center, karena tempat itu disebut jantung sejarah yang ada di kota Ghent. Disana ada the Towers of St Nicholas’ Church, the Belfry dan St Bavo’s Cathedral yang cantiiikkk banget kalau difoto.

Kalau kita tanya ke orang sekitar, atau coba browsing di internet tentang tempat yang paling cantik di Ghent, semuanya akan menyebut ‘Graslei-site’ atau yang mereka sebut The Old Port karena tempat ini dulunya merupakan tempat kapal-kapal untuk loading di pelabuhan yang disebut Tusschen Brugghen. To be noted, blue hour (jam-jam sore sebelum sunset) di sana itu magical banget karena perpaduan cantiknya sungai Lys, yachts, lampu-lampu dari café/bar outdoor di pinggir kanal dan tembok bangunan-bangunan tua yang fotonya sering kita liat di bungkus Belgian chocolate.

Karena udah masuk peralihan summer to autumn, waktu terangnya bisa dibilang ga terlalu panjang. Ga kerasa udah mulai gelap, suhu juga udah mulai turun, kita mau balik ke stasiun ngelewatin daerah Torens-side lagi. Pas lewatin town hall, ada piano gitu di tengah-tengah semacam koridor yang atapnya tinggi banget. Tetiba ada yang mainin pianonya. Mungkin karena pengaruh akustik dari bangunan di sekitarnya, suara pianonya jadi magical mendayu-dayu. Menenangkan hati banget mainnya. Baguuussss, sampe merinding dengernya. Di sekitar gue ada beberapa orang yang nontonin pianist itu, ada pasangan yang dansa nikmatin alunan seakan-akan dunia milik berdua, ada group of people badannya goyang pelan ngikutin nada. Disana gue sempet kepisah sendiri, jadi I enjoyed the music (and the city) by myself. Saking bagusnya pemandangan dan merdunya suara piano, gue sampe kontemplasi dan ga berhenti bersyukur sama Tuhan karena udah dikasih kesempatan nikmatin perjalan yang isinya keindahan-keindahan untuk dinikmatin panca indera. I was a bit cheezy tho. Tapi seketika, being single-unemployed-far from family and home mendadak terasa bukan beban. …and yeah my dear, I’m blessed and I can’t thank enough for that.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *