Flashback to the Baby Sharks in Taka Bonerate

I don’t remember.

I don’t recall the details where I have been in the past few years. Tiba – tiba muncul aja di memory lane path atau facebook—well, I love the surprise tho. Menurut gue pencipta memory lane itu jenius, tanpa mereka sepertinya gue bakal lebih susah lagi buat nginget apa yang udah gue lakuin beberapa tahun belakangan. Seharusnya sifat pelupa ini jadi alasan kenapa gue nulis blog, nantinya ketika ada orang yang nanya tentang rute atau tempat atau apa gitu, gue bisa langsung refer mereka untuk ngebaca blog gue. Tapi semakin kesini, gue semakin banyak lupa. Bahkan sampe lupa untuk menulis. Haha silly!

So, gue akan coba fllashback ke Bulan April 2014. Gue beruntung ketemu dengan sekelompok kakak – kakak perempuan yang super mengayomi, jadi dari budgeting sampe detail makan mie instant di pulau pun diurusin *blushing*. Sebagai anak bontot, gue cuma nyumbang tenaga booking hotel pake kelincahan jari nelusurin website. Perlu diceritain ga, profil kakak-kakak ini? Ah ga usah lah ya, nanti mereka ge-er hahahaha. Oke, long story short, mereka ini perempuan super yang udah melalangbuana ke berbagai tempat, ga cuma di Indonesia tapi mainnya sampe ke benua tetangga. Bener-bener baik hati dan tidak sombong, cuma sedikit galak dan kurang ajar aja, karena pas dulu gue curhat abis putus, mereka malah ketawa ngakak. Sengakak itu. HUFT! Beberapa dari mereka sempet nyusulin gue ke Scotland untuk traveling ke Highlands dan sekitarnya (coba bayangkan “sekitarnya” ini yang luas ya guys, seluas dari Scotland ke negara-negara Eropa. Nanti akan gue share cerita tentang Scotland dan sekitarnya. Iya, nanti. Kalo ga lupa. Iya iya, oke, ingetin ya! *biggrin*

Penampakan para kakak (+Bang Edu, suami Mba Nitta)

Ini trip kedua gue setelah ORA Beach dengan kakak – kakak tersebut. Jadi yang mau gue ceritain disini bukan ORA tapi suatu tempat di daerah Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan Laut Flores: Kepulauan Taka Bonerate. Perjalan yang menurut gue cukup challenging karena pake seluruh moda transport: darat, laut dan udara. Tahun 2014 belum banyak orang yang ngetrip kesana. Palingan cuma orang lokal dan pejabat daerah aja. Oh-dan researcher, karena kepulauan ini merupakan Atol tersebesar ketiga di dunia. Hah? Gatau Atol itu apa? No worries, gue dulu juga sempet nanya atol itu apaan hehehe (disclaimer: bukan berarti karena gue diver dan traveler berarti gue tau segala tentang laut. Hehe–iya, I’m working on it–biar kalo ditanya bisa macem wikipedia berjalan.)

Atol itu pulau karang yang biasanya berbentuk cincin dan di bagian tengahnya merupakan danau/cekungan/laguna yang udah terisi oleh air laut, dan pasti dikelilingi oleh terumbu karang. Atol Taka Bonerate luasnya sekitar 220.000 ha dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 km2. Kebayang kaaannnnn gimana rasanya nyelam atau sekedar ngambang2 manjyaah (red: plis dibaca ala ala incess). BAGUS BANGET!! Gue bahkan sampe menari – nari muter – muter berbahagia dibawah sana pas diving di wall. I’m going to attach the photo, don’t be jealous! Kepulauan ini dijadiin Taman Nasional karena biodiversity–biota dan terumbu karangnya super beragam. Seperti yang udah gue bilang tentang moda transport, untuk ke Taka Bonerate itu dibutuhkan sedikit usaha dan cuti panjang. Dari Jakarta, kita naik pesawat menuju Makasar. Dari Makasar, kita naik pesawat lagi yang isinya 12 orang menuju Bandara H. Aeropala Selayar. Orang bilang kita fancy banget ke Selayar doang naik pesawat. Tapi karena waktu kita yang terbatas dan harga tiketnya juga lumayan terjangkau (Rp240rb udah include airport tax), cuma karena quota terbatas harus booking dari jauh – jauh hari. Tapi perjalanan belum selesai sampe disitu, dari Kota Benteng Selayar kita perlu naik mobil dulu sekitar 1-2jam menuju Pelabuhan Pattumbukan, sampe akhirnya naik perahu getek (ini gue sebut karena bunyinya super berisik getek-getek). Jangan sedih, perjalanan kapal kayu ini waktu tempuhnya paling cepet 4 jam. Paling lama? Yaa 6 jam lah ya kurang lebih, nikmatin aja (panasnya). Hahaha. Makin sore, ombak laut makin ga bersahabat, jadi usahakan berangkat as early as possible.

Guys, ini cerita waktu di tahun 2014, gue denger disana udah berkembang banget dan lagi digenjot pariwisatanya. Semoga aja ada perahu yang lebih baik lagi buat ngangkut traveler.

Tapi semua terbayar kok pas sampe di Pulau Tinabo. Pulau yang ada resort-nya. Tempatnya super convenient. Karena sepi, jadi rasanya seperti pulau pribadi.

Disana kita ketemu sama guide yang ternyata juga divemaster. Kita ditawarin mau diving aja atau engga, jadinya gue & ntish pisah rombongan karena kita berdua memutuskan untuk diving. Keputusan impulsif yang menyebabkan terkurasnya uang cash (ya iyalah, mau cari mesin tunai dimana coba kalo lagi di pulau yang belum komersil begitu?), tapi keputusan itu ga gue sesali sama sekali. Terutama karena ngeliat bagusnya dibawah sana.

Oh wow, just googled about TN Taka Bonerate and found this data at Kompas.com, “Berdasarkan data dari Taman Nasional Taka Bonerate, pada tahun 2014 jumlah wisatawan yang berkunjung sebanyak 2.016 orang. Wisatawan nusantara yang datang 117 orang, sementara wisatawan mancanegara berjumlah 1.899 orang.” Means kita 7 dari 117 orang wisatawan nusantara yg dateng di 2014. Wismannya banyak dan ribuan, hmm interesting. Yang bikin menarik dari Pulau Tinabo ini adalah hiu. Kenapa hiu? Karena ada banyak hiu yang berenang ngelilingin pulau ini. Sounds scary huh, but no, it’s cute instead. Hiu yang berenang sampe ke pinggiran pantainya itu baby hiu, jadi masih kecil – kecil banget ukurannya. Paling gede se-betis gue  (yang katanya gede banget ini). Jadi ya bayangin aja keindahan ukurannya *halah apasih!

Dipinggir pantai, kita bisa bebas berenang, leyeh2, snorkeling, bahkan kasih makan hiunya. Tapi jangan asal kasih makan ya, walaupun hiu–hiu itu terkesan dipelihara, mereka masih liar. Jadi sebaiknya dikasih makan yang sesuai dengan nature-nya. Kasih aja isi perut ikan—daging ikannya kalian bakar lah buat makan malem :p atau potongan ikan kecil – kecil yang belum dimasak. Nanti kalau udah gede, hiu-hiu itu bakal dengan sendirinya pergi ke laut dalam. Gue sempet liat 1 hiu yang lumayan besar waktu diving, itu ngebuat adrenaline gue luar biasa tinggi (red: saat itu gue sedang obses sama hiu). Sampe gue ngabisin tanki lebih cepet dari ntish & guide kita, saking excited-nya ngacung-ngacung tangan di jidat (sign kalo ada hiu) sambil manggil mereka buat ngasih tau ada hiu lewat. Super duper ecxited sampe gue ga sadar gue ngos-ngosan. Another silly me, sampe gue harus nebeng regulator emergency si guide disaat terakhir-terakhir menuju safety stop.

Temperaturnya nyaman banget untuk wisata pantai & selam, sekitar 28 – 32 derajat celcius. Jadi ga perlu pake wetsuit tebel, daaannn pastinya bakal item. Jangan lupa pakai sunblock yaa, walo item yang penting ga perih karena kebakar. Kata guide kita, disitu ada spot yang disebut sebagai Kampung Nudi atau Nudibranch Village. Buat yang seneng underwater photography, itu surganya. Visibility bagus. Kalau beruntung, kita bisa ketemu Eagle ray dan penyu. Katanya kalau mau kesana, waktu bagusnya sekitar April – Juni atau Oktober – Desember. Di akhir tahun katanya sekarang ada event ekspedisi Taka Bonerate. Duh, jadi pengen balik lagi..

Hidup di pulau rasanya super menyenangkan, apalagi ketika yang kita lakuin cuma eksplor pemandangannya. Untuk menambah nilai perjalanan yang dilakuin, sebaiknya kita sebagai pelancong turut menjaga dan melestarikan lingkungan serta habitat di dalamnya. Dengan begitu, anak cucu sampai cicit kita juga bisa menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Ciao! Sampai ketemu di postingan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *