Living as a Jakartan (again!)

“The child who learns to rise to a challenge will often embrace a new experience with open arms. Conversely, the child who is taught to fear change will have to be dragged kicking and screaming into new environments and unfamiliar situations.” Heymont, 2016.

I never thought that living in Jakarta could be this hard. Haha iya iya, jangan judgmental dulu dong. Mentang – mentang hidup di luar Indonesia setahun lebih, terus sekarang jadi sok kesulitan hidup di tanah air. Noo.. Gue hanya jadi berpikir, pindah dari Jakarta untuk ngerasain pengalaman baru dengan kultur budaya yang beda itu bukannya force yourself untuk keluar dari comfort zone tapi semacam lari dari discomfort area yang baru kita sadari setelah keluar dari rutinitas keseharian kita. Gue besar di Jakarta, mengarungi jalanan dari timur ke selatan sejak SMP sampai terakhir gue resign dari sebuah bank asal Singapore yang berlokasi di daerah super macet di Jakarta. Nyetir di jalan macet udah jadi makanan sehari – hari gue dan menghabiskan waktu berjam – jam untuk pergi dan pulang udah jadi konsumsi harian gue. People say Jakarta consumes you. Sure it does, no? However, Jakarta itu diverse banget. Semua budaya ada di Jakarta, semua status sosial campur aduk dengan sangat kontras. Kita dituntut untuk berjuang kalau mau nyebrang jalan, berebut kalau mau masuk kereta, sabar – sabar kalau deal sama antrian, sampai mental batu (buat cewek) kalau disuit – suitin sama mamang – mamang di pinggir jalan.

Untuk itulah, kenapa kita para Jakartans ini secara ga langsung “dibentuk” untuk menjadi orang yang tough tapi cenderung keras, berani tapi cenderung offensive, mandiri tapi cenderung egois. Seems like kita diajarin untuk fear for nothing. Sedih ya, kita dibentuk untuk tangguh demi bertahan hidup tapi di sisi lain keteguhan itu bisa jadi destruktif. At the end, sikap seperti itu bukannya jadi mental yang positif tapi malah jadi sebuah kenegatifan yang bisa aja nyakitin perasaan orang lain. Parahnya, bisa berefek domino jadi sebuah generalisasi budaya bangsa. Kita gamau kan, cuma karena Jakarta itu ibu kota Indonesia, seakan – akan sifat orang – orangnya digeneralisasi jadi sifat orang – orang Indonesia?

Hidup di luar negeri itu mudah, susahnya cuma karena ga ada warteg dimana – dimana yang bisa menyuplai makanan murah. Susahnya cuma ga ada ojek yang bisa nganter kalau males jalan, apalagi sekarang yang bisa delivery dan disuruh ini itu. Susahnya cuma kita harus bergelut dengan udara dingin disaat badan kita dilahirkan di negara tropis sebagai anak khatulistiwa. Susahnya cuma kita harus masang kuping dengan baik untuk mendengar apa yang orang omongin dalam bahasa Inggris karena sefasih – fasihnya kita, tetep aja itu bukan bahasa ibu. Susahnya kita harus catch up dengan pace dan cara belajar orang sana. Susahnya kita harus open minded untuk bisa memahami sudut pandang orang sana dalam segala hal. Tapi apakah itu semua susah? Apakah kita sebegitu naifnya untuk menyadari kaau itu semua ternyata lebih dari mudah untuk dijalanin? Bedanya, disini we have our families and friends around us. Tapi bukan berarti kita ga bisa socialize dan dapet temen baru di lingkungan yang baru kan? Jadiiii, sepertinya gue mengalami apa yang orang – orang bilang reverse culture shock. yang artinya “re-entry, is simply a common reaction to returning home from studying abroad. It is an emotional and psychological stage of re-adjustment, similar to your initial adjustment to living abroad.”

Hmm..Jakarta shouldn’t be that hard, should it?

  2 comments for “Living as a Jakartan (again!)

  1. March 3, 2016 at 6:24 pm

    wah, elu masih nulis :)) keren keren!

    • Putu Agnia
      November 8, 2016 at 9:55 am

      wahaha tapi ga konsisten nih nulisnya :))))
      Thanks for visiting (again!!)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *